GET FEATURED

HEADLINE

MIL THE SERIES

YOUR PHOTOS AND ARTICLE

12.21.2015

Kultur In Vitro Mangrove Sejati dengan Teknik Mikropropagasi Sebagai Upaya Konservasi


Fungsi dan manfaat mangrove sangat kompleks yang mampu menjaga keseimbangan ekosistem di bumi. (Sumber foto).

MANGROVEMAGZ. Mangrove merupakan salah satu komponen ekosistem pesisir dan laut. Tumbuhan ini mampu hidup pada wilayah pasang surut di daerah tropis dan subtropis dengan range toleransi salinitas yang sangat tinggi. Lebih dari 100 spesies mangrove dari berbagai familia telah ditemukan. Hutan mangrove memiliki peranan yang sangat rumit serta saling berhubungan dengan ekosistem di sekitarnya, terutama ekosistem perairan lepas pantai.

Hutan mangrove memiliki fungsi yang sangat penting dari segi ekologi maupun ekonomi. Fungsi hutan mangrove secara ekologi, yakni sebagai sempadan pantai, menahan gelombang (tsunami), memperlambat arus pasang surut, menahan serta menjebak besaran laju sedimentasi dari wilayah atasnya sehingga mampu mengendalikan abrasi dan penyusupan air laut (intrusi) ke wilayah daratan yang dikendalikan melalui sistem perakarannya.

Selain itu, hutan mangrove juga merupakan tempat pemijahan, asuhan dan mencari makan bagi kehidupan berbagai jenis biota perairan laut. Di sisi lain, hutan mangrove merupakan kawasan sangtuari berbagai jenis satwa liar, seperti unggas (burung), reptil dan mamalia terbang, serta merupakan sumber pelestarian plasma nutfah.

Sedangkan jasa mangrove lainnya adalah mampu menghasilkan jumlah oksigen lebih besar dibanding dengan tetumbuhan darat. Manfaat ekonomis hutan mangrove juga tak kalah penting bagi masyarakat karena merupakan sumber pendapatan dengan mencari ikan, ketam, kerang, udang dan juga dapat melalui budidaya tambak melalui mangrove sebagai habitatnya.

Selain itu, beberapa buah mangrove dapat dimanfaatkan sebagai bahan makanan dan kulit mangrove bermanfaat dalam industri penyamak kulit, industri batik, patal serta pewarna jaring. Hutan mangrove juga dapat dijadikan sebagai kawasan wisata alam, penelitian dan laboratorium pendidikan.

Indonesia merupakan negara tropis yang memiliki ekosistem mangrove terluas di dunia (Winarto, 2003), yaitu sekitar 4,25 juta ha (27%) dari 15,9 juta ha luas mangrove dunia (FAO, 1982). Namun, aktifitas antropogenik dari pertumbuhan populasi manusia dan ekonomi mengakibatkan keberadaan hutan mangrove di Indonesia saat ini dalam kondisi rusak.

Kerusakan tersebut terutama terjadi pada formasi mangrove sejati yang terdiri dari empat genus utama, yaitu Avicennia, Sonneratia, Rhizophora, dan Bruguiera (Nybakken, 1993).

Mangrove sejati atau mangrove mayor merupakan tumbuhan mangrove yang membentuk tegakan murni, memiliki akar napas dan bereproduksi secara vivipar. Mangrove sejati merupakan mangrove yang berada pada garis terdepan pantai yang mampu berfungsi sebagai barrier yang mencegah abrasi air laut ke darat. Oleh karena itu, untuk mengatasi permasalahan tersebut, perlu dilakukan konservasi mangrove sejati.


Kebun pembibitan mangrove di pesisir. (Sumber foto).

Di berbagai negara, konservasi mangrove dilakukan dengan menggunakan propagul dan biji, akan tetapi ketersediaan dari propagul dan biji bergantung ketersediaan secara alami. Mangrove dapat bereproduksi secara vivipar, reproduksi semacam ini sulit untuk menghasilkan ketersediaan propagul karena tidak dapat menjaga dormansi seperti biji pada tanaman terestrial. Hal tersebut tentu saja tidak dapat memenuhi kebutuhan dalam konservasi mangrove.

Posisi jatuhnya propagul dari tumbuhan mangrove juga menentukan propagul tersebut dapat tumbuh dan berkembang menjadi pohon atau tidak, karena terkadang pada saat pasang ataupun tekstur subtrat tidak mendukung, maka propagul tidak jatuh vertikal dengan sempurna dan bahkan horizontal.

Selain itu, bibit mangrove dari banyak spesies tidak tersedia sepanjang tahun karena memiliki masalah seperti benih yang lemah, viabilitas benih sangat singkat, pasca-penyebaran predasi perkecambahan benih, dan saat ini pemanfaatan buah mangrove mulai sering digunakan.

Mengingat banyaknya kendala dalam memperbanyak bibit mangrove secara konvensional sebagai persediaan, maka untuk mengatasi permasalahan tersebut perlu dilakukannya perbanyakan secara vegetatif menggunakan metode yang dapat lebih memperbanyak bibit mangrove dalam waktu yang cepat, yaitu dengan menggunakan kultur in vitro.



Ilustrasi cangkok Cemara Udang, salah satu jenis mangrove asosiasi yang sering ditemukan di pesisir. (Sumber foto).

Kultur in vitro merupakan teknik untuk menumbuhkan organ, jaringan, dan sel menjadi individu lengkap yang baru. Berdasarkan kemampuan totipotensi sel tumbuhan, perbanyakan dengan kultur in vitro dapat lebih menghemat waktu dan tempat, serta tanaman yang diperbanyak mempunyai sifat yang sama dengan induknya.

Metode kultur in vitro yang digunakan untuk memperbanyak tumbuhan mangrove secara cepat, yaitu dengan teknik mikropropagasi. Mikropropagasi merupakan teknik perbanyakan secara vegetatif yang dilakukan menggunakan kultur jaringan yang diambil dari bagian meristematik, dapat diperoleh dari bagian akar, batang dan daun.

Tahapan yang dilakukan meliputi seleksi eksplan dan persiapan, inisiasi dan kultur pada media prekondisi, media multiplikasi, media pengakaran dan media aklimatisasi. Teknik ini telah digunakan untuk pemuliaan dan perbanyakan tumbuhan yang keberdaannya mulai jarang ditemui.

Teknik ini dapat dijadikan bahan pertimbangan bagi penelitian yang didukung oleh pemerintah sebagai upaya konservasi, terutama dalam penyediaan dan perbanyakan bibit mangrove sejati.

Harapan kedepannya adalah, selain menjadikan Indonesia sebagai negara pioner konservasi ekosistem mangrove, juga sebagai penyedia bibit mangrove terlengkap dan terunggul di dunia, baik dalam bentuk in vitro maupun in vivo. (Maspenti).

DAFTAR PUSTAKA
Kawana, Y., and Hamako, S. 2008. Stimulation Effect of Salts on Growth in Suspension Culture of a Mangrove Plan, Sonneratia alba, Compared with Another Mangrove, Bruguiera sexangula and Non-mangrove Tobacco BY-2 Cells. Plant Biotechnology 25:151-155. Yokohama National University, Japan.
Nybakken, J.W. 1993. Dasar-dasar Ekologi Mangrove . PT. Gramedia, Jakarta.
Vartak, V., and Mahesh Shindikar. 2008. Micropropagation of a Rare mangrove Bruguiera cylindrica L. Toward Conservation. Vol 7:255-259. University of Pune, India.
http://www.fao.org/english/newsroom/news/2003/15020-en.html
http://www.scbfwm.org/latar-belakang/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

EVENT TERBARU