GET FEATURED

HEADLINE

MIL THE SERIES

YOUR PHOTOS AND ARTICLE

10.01.2014

Menanam Mangrove di Hutan Terakhir Jakarta


Tak sembarangan orang loh yang boleh masuk kesini, karena daerah konservasi, kalian harus memiliki izin dari instansi terkait jika ingin datang kesini. 

MANGROVEMAGZ. Akhir pekan menjadi aktivitas rutin bagi saya melakukan timbal balik kepada alam. Bersama teman-teman di komunitas KeMANGTEER Jakarta, saya berkesempatan untuk menanam bibit mangrove dan merasakan hutan-alami terakhir di ujung utara Jakarta, Suaka Margasatwa Muara Angke (SMMA).

Tak sembarangan orang loh yang boleh masuk kesini, karena daerah konservasi, kalian harus memiliki izin dari instansi terkait jika ingin datang kesini. Dan dengan segala birokrasinya, permohonan kita akan ditinjau dari berbagai segi apakah layak atau tidak untuk diberi izin. Maklum, karena memang prosedur ini sengaja diterapkan semata-mata agar kegiatan yang dilakukan tidak malah mengganggu dan merusak ekosistem di dalamnya.

Nah, berhubung komunitas ini (KeMANGTEER Jakarta – red.) memiliki jejak rekam cukup baik dalam kegiatan lingkungan selama di Jakarta, singkat cerita kami berhasil mendapatkan Surat Izin Masuk Konservasi (SIMAKSI) untuk tanggal 20 Agustus 2014.

Sebelum melakukan kegiatan di area konservasi, kami diberikan pengarahan oleh perwakilan dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), Bu Mila yang sengaja menyempatkan hadir dan Pak Jati sebagai Polisi Hutan (Polhut) SMMA. Melalui cerita mereka berdua, saya banyak mendapat pengetahuan tentang SMMA yang merupakan suaka margasatwa terkecil di Indonesia.


Sebelum melakukan kegiatan di area konservasi, kami diberikan pengarahan oleh perwakilan dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), Bu Mila yang sengaja menyempatkan hadir dan Pak Jati sebagai Polisi Hutan (Polhut) SMMA. 

Dengan luas total 25,02 hektar, SMMA merupakan satu-satunya suaka margasatwa di Kota Jakarta, sekaligus yang terkecil di Indonesia. Meski begitu, tempat ini memiliki peranan penting loh dalam upaya pelestarian satwa. Ada kelompok monyet ekor panjang yang merupakan jenis asli di SMMA, selain itu ada biawak, ular, labi-labi dan lainnya.


Ada kelompok monyet ekor panjang yang merupakan jenis asli di SMMA, selain itu ada biawak, ular, labi-labi dan lainnya. 

Menurut Pak Jati, SMMA menjadi tempat persinggahan bagi burung-burung yang bermigrasi dari Australia maupun dari Pulau Rambut. SMMA menjadi rumah dari 74 jenis burung, dimana 17 diantarannya merupakan jenis burung yang dilindungi. Oleh karena itu, tempat yang sebelumnya mempunyai status cagar alam ini, diubah statusnya pada tahun 1998 menjadi suaka margasatwa sebagai pembinaan terhadap habitat untuk perlindungan bagi kelangsungan jenis satwa yang terancam.

Menanam Mangrove dan Menelusuri Jalur Treking
Sebelum terjun ke tempat penanaman, kami diberikan pengarahan tentang cara penanaman oleh Pak Jati. Bibit mangrove yang ditanam merupakan hasil budidaya dari masyarakat sekitar, loh. Menurut Pak Jati, masyarakat sekitar digalakan untuk membudidayakan mangrove sehingga menjadi tambahan sumber pemasukan. Karena itu, harga satu bibitnya cukup mahal dibanding jika menanam di Pulau Seribu. Jika tidak begitu, dikhawatirkan masyarakat akan meninggalkan budidaya mangrove, terlebih malah membabat hutan untuk mencari sumber pemasukan.


Sebelum terjun ke tempat penanaman, kami diberikan pengarahan tentang cara penanaman oleh Pak Jati. 

Tibalah saatnya untuk menanam. Beruntungnya kami datang disaat yang tepat, ketika musim memasuki awal kemarau. Lokasi hari itu kering sehingga memudahkan kami untuk melakukan penanaman, walau tidak sedikit yang kecewa karena menurut mereka sensasi menanam mangrove tidak lengkap rasanya tanpa berbecek-becekan di lokasi. Meski begitu, lebih dari 30 orang yang terlibat dalam penanaman terlihat antusias menanam mangrove.


Lebih dari 30 orang yang terlibat dalam penanaman terlihat antusias menanam mangrove. 

Setelah selesai menanam, kami melanjutkan kegiatan dengan menelusuri jalan SMMA. Terdapat fasilitas jalur tracking jembatan kayu untuk masuk ke dalam hutan. Sayangnya, kondisinya terlihat amat memprihatinkan. Banyak kayu-kayu yang rapuh bahkan sudah tidak utuh lagi karena rusak. Hal ini yang membuat kami harus berhati-hati dan tidak bergerombol ketika melewati jalur tracking. Bu Mila sebenarnya sudah melaporkan kondisi ini, namun feedback dari pusat sangat lambat sehingga renovasi jembatan ini paling cepat dilakukan pada awal tahun 2015.

Sepanjang jalur tracking, kami disuguhi aneka vegetasi dan suasana hutan yang alami. Tidak jarang kami bertemu kelompok monyet ekor-panjang yang bergelantungan bebas diantara pepohonan. Bahkan, monyet bergerak hingga turun ke jembatan sehingga membuat beberapa rombongan kami terpisah, karena banyak yang tidak berani melewati jalan yang dihinggapi monyet-monyet.


Sepanjang jalur tracking, kami disuguhi aneka vegetasi dan suasana hutan yang alami. Tidak jarang kami bertemu kelompok monyet ekor-panjang yang bergelantungan bebas diantara pepohonan. 

Kami harus kecewa tidak dapat menyelesaikan ujung jalur tracking ketika kami sampai pada lokasi dimana jembatan sudah benar-benar tidak dapat dilalui. Demi keselamatan, dengan berat hati kami harus berbalik badan dan kembali ke pos. Tetapi, dapat melihat kondisi hutan yang natural dimana para satwa dapat berinteraksi bebas, membuat kekecewaan itu terganjarkan.

Berbincang dengan Warga Asing
Dalam perjalanan balik ke pos, saya bertemu dengan seorang warga asing yang juga sedang mengunjungi SMMA. Ia mengajak saya berbincang dan bercerita tentang lokasi hutan ini. Pria yang berasal dari UK, Scotland ini prihatin dengan kondisi SMMA, salah satunya karena melihat jalur tracking yang kondisinya sangat membahayakan.


Pria yang berasal dari UK, Scotland ini prihatin dengan kondisi SMMA. 

Ia juga menyayangkan dengan kondisi lingkungan di Indonesia. Ia bercerita pernah berkelana mengelilingi dunia dan ia merasa lingkungan Indonesia adalah yang paling parah kondisinya. Sambil memandang lahan basah dengan warna air kehitaman, berulang kali ia mengungkapkan kesedihannya melihat sungai dan lingkungan yang tercemar. Menurutnya, pemerintah (Indonesia) tidak punya keseriusan menangani permasalahan lingkungan. Sudah dua kali ia mengunjungi tempat ini, bahkan yang terakhir kondisinya sangat mundur dibanding pertama ia datang.


Banyak kayu-kayu yang rapuh bahkan sudah tidak utuh lagi karena rusak. Hal ini yang membuat kami harus berhati-hati dan tidak bergerombol ketika melewati jalur tracking. 

Saat berpisah, ia menitipkan pesan untuk saya agar menjaga hutan ini, karena oleh generasi muda seperti sayalah lingkungan mempunyai harapan lebih besar untuk dilestarikan. Membuat tersentil mendengar pendapatnya, tetapi tidak dapat disembunyikan, karena itulah kenyataannya. Perlu kesadaran-lebih dari masyarakat untuk lebih peka terhadap kondisi hutan terakhir di Jakarta ini.

Karena sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat, bermanfaat secara horizontal maupun vertical. Horizontal dalam arti dengan sesama, sedangkan vertical dengan Tuhan. Salah satu cara menjadi manusia bermanfaat untuk Tuhan adalah dengan menjaga apa yang dititipkanNya. Hutan, gunung dan lautan adalah titipan yang harus diperjuangkan untuk keberlangsungan makhluk hidup. (Reza Ramadhan).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

EVENT TERBARU