9.16.2014

Icip-Icip Keripik Brayo, Kuliner Mangrove Lezat Khas Demak

Keripik daun brayo cap Soponyono, khas Tambak Sari Asli. Total kocek yang saya keluarkan sembilan ribu rupiah. Sadaaap! 

MANGROVEMAGZ. Waktu masih sekolah dulu, Ibu saya di setiap sarapan pagi, selalu membelikan saya keripik bayam, keripik yang dikasih tepung-gurih, dilumuri ke daun bayam. Waktu itu, keripik bayam dijual seharga seribu rupiah per plastik yang berisi kurang lebih lima buah daun bayam berlumur tepung. Keripik berwarna hijau itu, dijual oleh Mbok-mbok pedagang sayur, yang tiap pagi hobi lewat di depan rumah saya.

Tak bisa dipungkiri, saya suka sekali menu makan-pagi saya karena ada keripik bayam di dalamnya. Bagi saya waktu itu, keripik bayam adalah keripik terlezat di dunia! Nasi putih pulen hangat berlumur garam ditambah telur ceplok dan sambal terong glatik serta keripik bayam, adalah makanan paling nikmat yang pernah saya icip.

Keripik bayam yang bercita rasa gurih, ternyata tak sulit untuk dimasak, bahkan Ibu pernah mengajarkan caranya kepada saya. Yang dibutuhkan hanya beberapa lembar daun bayam berukuran sedang hingga besar dicampur dengan tepung beras diracik bumbu dapur yang gurih, lalu digoreng, ditiriskan dan bila sudah matang, siap disantap. Se-simple itu!


Dihidangkan tiap sarapan pagi bersama nasi putih-pulen. Sumpah, keripik bayam ini enaknya kebangetan. Gurrrih!  

Selama beberapa tahun, saya kira keripik bayam adalah keripik terenak yang pernah saya icip. Walaupun ada keripik singkong, keripik pisang dan keripik sukun misalnya, entah kenapa keripik bayam lebih klop di lidah saya. Namun, kenikmatan keripik bayam mulai terusik, saat beberapa hari yang lalu saya mencicipi keripik daun mangrove bernama keripik api-api di Morosari, Demak.  

Nggak tahu kenapa, setelah saya beli seharga tiga ribu rupiah per plastik, cita rasanya yang berbeda dengan keripik bayam, membuat saya ketagihan. Suer, rasanya enak banget. Ada sensasi asam, seperti rasa jeruk purut, tapi gurih.

Keripik ini, mengandung tanin. Tanin sendiri, sebenarnya adalah zat pertahanan-diri api-api dari air garam laut yang masuk bebas ke dalam tubuhnya. Mungkin, bercampurnya tanin dengan zat-zat lain yang ada di tubuh api-api inilah, yang pada akhirnya membuat sensasi asam di lidah saya.


Warung sederhana, tempat keripik brayo dijual, di sekitar kawasan mangrove Morosari, Demak. 

Di Morosari, keripik ini disebut juga sebagai keripik brayo. Keripik lezat ini dijual bebas warga di sana, yang berjualan di sekitar jalanan berkayu, di kawasan konservasi mangrove milik pemerintah Demak. Satu plastik dihargai tiga ribu rupiah. Kecil kemasannya, tapi bagi saya lezatnya gak ketulungan, mengalahkan keripik bayam, idola saya selama beberapa tahun terakhir. Hiks....

"Aman, Mas. Ada Pak Dokter dan mahasiswa juga yang suka borong keripik ini," ujar salah satu Ibu pedagang, meyakinkan saya kalau dagangannya aman dikonsumsi.

Memang, saya termasuk yang paling rewel kalau soal makanan. Waktu mau beli kemarin, saya pastikan dulu keripik brayo ini aman. Saya sedikit menginterogasi sang Ibu pedagang, akan keamanan produknya. Saya khawatir saja, soalnya tanin ini ternyata semacam zat "racun" penetralisir zat-zat berbahaya yang masuk ke tubuh brayo, tak terkecuali daun yang jadi bahan utama keripik brayo.

"Selama ini tak pernah ada kasus keracunan, kok. Malah sehat, Mas. Cara masaknya gampang. Daun brayo dicari yang lebar dan matang, lalu dicuci bersih, direndam sehari untuk menghilangkan kadar racunnya, baru besoknya digoreng pakai tepung. Gurih dan enak," tambah Ibu pedagang, promosi lagi.


Penampakan asli pohon brayo, yang daunnya dibuat keripik mangrove tergurih di dunia versi saya. 

Okelah, saya yakin. Dan, saya borong tiga bungkus. Saya lahap langsung selama perjalanan dari Demak ke Semarang, dan saya takut, keripik bayam jadi tak enak lagi. Fix, niche-nya tergantikan dengan keripik brayo. Keripik daun mangrove ini paling enak sedunia!

Memang, tak pernah ada kasus keracunan saat mengkonsumsi keripik dari daun mangrove ini (menurut warga setempat), namun ada rekomendasi dari penulis spesialis buku mangrove bernama Aris Priyono, yang menyebutkan bahwa untuk mengkonsumsi brayo, dalam hal ini buahnya yang dijadikan tepung lalu diolah menjadi berbagai makanan, harus melewati beberapa tahap, lho.


Buku mangrove yang menganjurkan buah api-api di-treatment terlebih dahulu sebelum diolah jadi makanan lezat.

Penulis mengatakan bahwa semua resep yang menggunakan buah api-api sebagai bahan campuran, harus melalui urutan proses pengolahan sebagaimana tercantum di bawah ini:

1. Ambil api-api dari hutan mangrove.
2. Kupas kulitnya dan ambil bagian dalamnya saja.
3. Buah yang telah dikupas dibelah jadi empat bagian. Lepaskan putik dari buahnya.
4. Rebus dalam air mendidih hingga lunak (sekitar 30 menit), sambil terus mengganti air rebusan. Lalu taburi dengan abu gosok secukupnya sambil diaduk hingga rata.
5. Angkat dan cuci hingga warnanya berubah kehijauan.
6. Rendam dalam ember yang agak besar selama dua hari. Setiap enam jam ganti airnya untuk mempercepat proses penghilangan racunnya.
7. Api-api siap diolah dan dijadikan makanan.

Walaupun memang keripik api-api ini, bukan dibuat dari tepung buahnya, melainkan dari daunnya, namun menurut hemat saya, secara-kandungan-zat didalamnya adalah sama, walaupun mungkin kadarnya berbeda. Jadi, kalau mau mengkonsumsi daun ataupun buah brayo, ya harus di-treatment terlebih dahulu. Ya, gak, sih (?).

Terlepas dari pro kontra kandungan tanin daun brayo, yang belum banyak diteliti (setahu saya yang sudah diteliti adalah kandungan tanin di buahnya), saya asyik-asyik aja memamah biak keripiknya. Di kantor, saat makan siang, saya suka memadupadankan dengan menu lainnya, diantaranya 'jadi temannya' soto, rawon, rendang, rames, dan menu lain favorit saya. Ingin tahu kelezatan keripik terenak di dunia versi saya? Cobalah keripik brayo. Ajib dan recommended! (Ganis R. E.).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar