Oleh karena itu, banyak sekali pihak yang mencoba untuk mengampanyekan tentang pentingnya manfaat ekosistem mangrove dengan berbagai cara yang efektif dan efisien. Salah satunya dengan pembangunan pusat edukasi yang berisi tentang berbagai informasi mengenai mangrove.
Hal tersebut salah satunya diimplementasikan di Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, tepatnya di Desa Hurip Jaya. Kawasan ini merupakan ekosistem mangrove yang asri dan rimbun, serta dilengkapi dengan fasilitas saung dan perpustakaan mangrove. Pengembangan kawasan tersebut dilakukan oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Berkah Sejahtera bersama Kelompok Pegiat Mangrove Pondok Dua Desa Hurip Jaya dengan dukungan donor.
Kunjungan ke kawasan tersebut dilaksanakan oleh Tim Mangrove Tag yang diwakili oleh Agape L. Anthoni dan Anggoro D. B. Saputro. Keduanya juga melaksanakan Program Tanam Pantau Mangrove Tag di kawasan tersebut sekaligus menyusuri area yang sedang dikembangkan.
Saat memasuki kawasan ini, pengunjung akan ditawarkan suasana yang asri dan alami berbeda dengan suasana di Bekasi pada umumnya. Pengunjung akan melewati gerbang unik yang terbuat dari bambu pada pintu masuk.
Tidak jauh dari pintu masuk, pengunjung langsung disambut oleh berbagai jenis mangrove. Mangrove dibagi menjadi tiga jenis utama, yaitu mangrove mayor, mangrove minor, dan mangrove asosiasi di mana ketiga jenis ini hidup berdampingan menjadi satu kesatuan menjadi suatu ekosistem.
Di area tengah terdapat pohon dengan genus Rhizophora sp. atau biasa dikenal dengan nama lokal bakau yang sudah berukuran besar, hingga genus Avicennia sp. atau yang dikenal dengan nama lokal api-api yang tumbuh cukup banyak di kawasan ini. Selain itu, mangrove jenis mangrove minir dan asosiasi juga tumbuh berdampingan di sekitarnya.
Hal ini membuat kawasan di sekitar saung dan perpustakaan mangrove memiliki keanekaragaman hayati yang cukup tinggi. Berbagai fauna hidup di area ini, mulai dari aneka jenis ikan, kepiting, gastropoda, hingga berbagai jenis burung yang tinggal maupun hinggap di kawasan tersebut.
Semakin masuk ke dalam kawasan, pengunjung akan menemukan papan informasi yang menjelaskan berbagai jenis mangrove yang ada di lokasi ini. Informasi yang disajikan cukup lengkap, mulai dari nama lokal, penjelasan singkat, hingga status konservasinya. Selain itu, setiap penjelasan juga dilengkapi dengan gambar yang jelas dan menarik.
Kehadiran papan edukasi ini membantu pengunjung lebih mudah mengenal berbagai jenis mangrove sekaligus memahami pentingnya ekosistem mangrove bagi lingkungan.
Di bagian tengah kawasan juga terdapat saung yang biasa digunakan sebagai tempat berkumpul maupun kegiatan edukasi. Di sekitar area saung juga tersedia berbagai informasi menarik mengenai mangrove, seperti jenis-jenis akar mangrove, mulai dari akar lutut, akar penyangga, hingga akar pensil. Seluruh informasi disusun dengan cukup lengkap sehingga dapat menjadi sarana pembelajaran bagi masyarakat umum.
Di ujung trekking terdapat dermaga kecil tempat kapal bersandar. Nantinya area ini direncanakan menjadi titik awal kegiatan susur sungai menuju muara anak Sungai Cikeas. Saat ini kegiatan susur sungai tersebut masih dalam tahap pengembangan, namun potensinya cukup besar untuk dijadikan bagian dari ekowisata mangrove.
Secara keseluruhan, kawasan Saung dan Perpustakaan Mangrove Kampung Pondok Dua ini memiliki potensi wisata edukasi yang sangat menarik. Pengunjung tidak hanya bisa berjalan menyusuri kawasan mangrove dan berfoto, tetapi juga belajar langsung tentang berbagai jenis mangrove beserta manfaatnya bagi lingkungan. (ADM).




No comments:
Post a Comment