Pengenalan RoveCast
RoveCast adalah kanal podcast yang menyajikan data dan fakta mangrove melalui opini, wawancara, review, dan diskusi mendalam mengenai isu mangrove di Indonesia. Konten RoveCast membahas dinamika ekosistem mangrove, kebijakan pesisir, perubahan iklim, karbon biru, hingga pendampingan masyarakat pesisir, dengan pendekatan berbasis data, pengalaman lapangan, dan perspektif multidisipliner.
Diskusi disajikan dalam format podcast berdurasi panjang untuk membangun pemahaman utuh dan berkelanjutan tentang peran mangrove dalam perlindungan lingkungan, ketahanan pesisir, serta pembangunan sosial-ekologis di Indonesia. RoveCast merupakan bagian dari ekosistem literasi mangrove yang terhubung dengan dokumentasi lapangan, riset, dan aksi nyata di berbagai wilayah pesisir Indonesia.
Pada sesi kali ini RoveCast membahas mengenai dinamika pemberdayaan masyarakat pesisir dengan tajuk “Dinamika Pendampingan Warga Binaan di Kawasan Pesisir Indonesia” yang dibawakan oleh Bagus R. D. Angga, Paspha G. M. Putra yang mewakili IKAMaT, dan Agape L. Anthoni yang mewakili KeSEMaT.
Awal Pendampingan: Dari Krisis Menuju Solusi
“Baik disini kita akan membahas mengenai dinamika dalam mendampingi warga binaan di kawasan pesisir Indonesia, di sini sudah terdapat Paspha yang merupakan karyawan IKAMaT yang kebetulan juga pernah menjadi Presiden KeSEMaT dan Agape yang sekarang menjabat sebagai Presiden KeSEMaT,” ujar Bagus. “KeSEMaT memiliki warga binaan di Semarang Mangrove Center, Jawa Tengah, mungkin dari mas Agape dapat menjelaskan mengapa tempat tersebut dipilih dan mengapa pemberdayaan masyarakat dapat terjadi?,” sambungnya.
Agape menyampaikan bahwa di Jawa Tengah, khususnya Semarang Mangrove Center (SMC), Jawa Tengah (Jateng) pendampingan telah dimulai sejak 2012 melalui kolaborasi KeSEMaT dengan PT Indonesia Power Wilayah Jakarta. Di mana wilayah pesisir Mangunharjo dan Mangkang Wetan saat itu menghadapi dampak perubahan iklim yang signifikan yang mengakibatkan beberapa dampak ekonomi, seperti hasil tangkapan nelayan menurun, produktivitas tambak berkurang, dan tekanan ekonomi semakin terasa.
Berangkat dari kondisi tersebut, muncul gagasan untuk menjadikan mangrove tidak hanya sebagai pelindung pesisir, tetapi juga sebagai sumber penghidupan alternatif. Warga binaan mulai mengembangkan berbagai produk olahan mangrove, seperti keripik, kerupuk, stik, cendol, batik mangrove, hingga inovasi unik berupa kopi mangrove. Proses ini tidak sederhana, mulai dari pengolahan, perizinan, pengemasan, hingga pemasaran, tetapi perlahan membentuk fondasi ekonomi lokal berbasis sumber daya alam yang lestari.
“Wah menarik sekali mas Agape, sebagai pembanding IKAMaT memiliki warga binaan di wilayah barat Jawa, yaitu Banten, coba mas Paspha dapat diceritakan juga awal mula pendampingan kelompok masyarakat di sana dan bagaimana dinamika serta tantangannya?,” tanya Bagus.
Paspha menyampaikan bahwa pendampingan warga binaan di Pandeglang, Banten, IKAMaT memulai pendampingan pada 2022 dengan pendekatan yang berbeda namun saling melengkapi. Kegiatan diawali dengan asesmen ekosistem mangrove di Lembur Mangrove Patikang, meliputi kesehatan mangrove, simpanan karbon, keanekaragaman flora-fauna, hingga valuasi jasa ekosistem.
Hasil asesmen menunjukkan potensi besar mangrove non-kayu (non-timber), seperti Avicennia, Rhizophora, dan Bruguiera. Potensi ini kemudian dikembangkan IKAMaT bersama PT Chandra Asri Petrochemical Tbk melalui produk-produk turunan, salah satunya batik mangrove berbahan pewarna alami. Pengalaman KeSEMaT di Semarang pun dijadikan role model, bahkan warga binaan yang telah mapan berperan sebagai trainer bagi kelompok baru di Banten.
Tantangan Utama: Menjaga Kelompok Tetap Hidup
Agape dan Paspha menyampaikan bahwa baik di Semarang maupun Pandeglang, tantangan utama pendampingan terletak pada keberlanjutan kelompok warga binaan. Produk olahan mangrove memang memberikan pendapatan alternatif, tetapi belum selalu menjanjikan keuntungan besar. Akibatnya, tidak semua anggota mampu bertahan dalam kelompok.
Dinamika keluar-masuk anggota, menurunnya semangat setelah fase awal yang penuh antusiasme, serta perbedaan ekspektasi menjadi persoalan klasik. Di Banten, tantangan lain muncul dalam membangun kepercayaan masyarakat, terutama karena perbedaan latar belakang budaya antara pendamping dan warga lokal. Proses mendengarkan, tinggal bersama masyarakat, dan bergerak secara perlahan menjadi kunci membangun relasi yang kuat.
Salah satu pelajaran penting dari kedua lokasi adalah peran strategis local champion. Sosok lokal yang dipercaya, konsisten, dan mampu menggerakkan masyarakat terbukti menjadi “power” dalam proses pemberdayaan. Meski tidak mudah menemukan figur ini, keberadaannya sangat menentukan keberhasilan mobilisasi warga dan keberlanjutan kelompok.
Keberlanjutan: Regenerasi, Inovasi, dan Advokasi Lingkungan
“Ke depan, keberlanjutan pendampingan diarahkan pada beberapa aspek. Pertama, regenerasi melibatkan anak muda agar tidak hanya bergantung pada satu figur atau ketua kelompok. Kedua, inovasi produk agar mangrove terus relevan dan menarik secara ekonomi,” kata Paspha. “Selanjutnya, ketiga, penguatan kapasitas organisasi melalui pelatihan manajemen kelompok dan manajemen konflik. Dari ketiga aspek tersebut harapannya dapat memperkuat kelembagaan dari kelompok masyarakat yang didampingi,” tambahnya.
Kemudian, Agape juga menyampaikan bahwa harapannya kelompok pengolah mangrove bukan kayu dapat berkembang menjadi agen perubahan dan pelestari lingkungan. Dengan merasakan langsung manfaat mangrove, masyarakat terdorong untuk menjaga dan melindungi ekosistem tersebut. Dalam konteks ini, pemberdayaan ekonomi dan rehabilitasi mangrove bukan dua hal terpisah, melainkan satu kesatuan yang saling menguatkan.
Pendampingan warga binaan di kawasan pesisir Indonesia adalah proses yang dinamis dan penuh tantangan. Ia menuntut kesabaran, kepercayaan, kolaborasi, serta visi jangka panjang. Namun ketika dilakukan dengan pendekatan yang tepat, pendampingan tidak hanya memperkuat ekonomi masyarakat, tetapi juga menciptakan penjaga-penjaga baru bagi keberlanjutan ekosistem pesisir Indonesia.


No comments:
Post a Comment