MANGROVEMAGZ. Hutan Mangrove Sundarbans kembali menjadi perhatian dunia setelah Barclays menghadapi pengaduan resmi terkait hubungan pembiayaannya dengan proyek pembangkit listrik tenaga uap batu bara Rampal di Bangladesh. Pembangkit tersebut berada di sekitar kawasan Sundarbans, ekosistem mangrove lintas negara yang terbentang di Bangladesh dan India serta dikenal sebagai hutan mangrove terluas yang masih tersambung di dunia.
Pengaduan tersebut memperluas perdebatan mengenai siapa yang harus bertanggung jawab ketika pembiayaan proyek industri berpotensi menimbulkan risiko terhadap ekosistem penting. Persoalannya tidak lagi hanya menyangkut perusahaan yang membangun atau mengoperasikan fasilitas, tetapi juga lembaga keuangan yang menyediakan layanan pendanaan bagi kegiatan tersebut.
Kasus ini menjadi penting karena Hutan Mangrove Sundarbans sedang menghadapi tekanan berlapis. Pencemaran industri, perubahan aliran air tawar, peningkatan salinitas, aktivitas pelayaran, pembangunan pesisir, badai tropis, dan kenaikan muka laut saling berinteraksi dalam satu lanskap yang sangat sensitif.
Mengapa Hutan Mangrove Sundarbans Sangat Penting?
Sundarbans berada di delta Sungai Gangga, Brahmaputra, dan Meghna yang bermuara ke Teluk Benggala. Keseluruhan lanskap Sundarbans mencakup sekitar 10.000 kilometer persegi, dengan kurang lebih 60% wilayahnya berada di Bangladesh dan sisanya di India.
Angka tersebut berbeda dengan luas properti Warisan Dunia di Bangladesh. UNESCO mencatat kawasan Warisan Dunia Sundarbans seluas sekitar 139.500 hektare, yang terdiri atas tiga suaka margasatwa dan menjadi bagian inti dari bentang alam Sundarbans yang lebih luas.
Jaringan sungai pasang surut, kanal, dataran lumpur, dan pulau-pulau kecil membentuk habitat bagi berbagai jenis flora dan fauna. Kawasan ini menjadi tempat hidup harimau benggala, buaya muara, lumba-lumba Gangga, lumba-lumba Irrawaddy, penyu, burung air, ikan, udang, kepiting, dan berbagai biota estuari lainnya.
Sundarbans juga mendukung kehidupan jutaan penduduk di wilayah sekitarnya. Masyarakat memanfaatkan perikanan, madu, hasil hutan bukan kayu, transportasi sungai, dan sumber daya pesisir sebagai bagian dari mata pencaharian mereka.
Lebih dari itu, mangrove membentuk perlindungan alami terhadap gelombang, badai, banjir pesisir, dan intrusi air laut. Penelitian Akber dan rekan-rekannya menunjukkan bahwa keberadaan Sundarbans berkontribusi dalam mengurangi kerusakan yang ditimbulkan oleh badai dan gelombang pasang terhadap permukiman pesisir.
Fungsi tersebut sejalan dengan peran mangrove dalam mengurangi dampak perubahan iklim, bukan hanya melalui penyerapan karbon, tetapi juga melalui perlindungan fisik dan peningkatan ketahanan masyarakat pesisir.
Barclays Diadukan Terkait Pembiayaan PLTU Rampal
The Guardian melaporkan bahwa tiga pengadu dari Bangladesh dan India mengajukan perkara kepada Office for Responsible Business Conduct di Inggris.
Para pengadu terdiri atas aktivis lingkungan Sharif Jamil, petani sekaligus politikus Animesh Mandal, serta Dakshinbanga Matsyajibi Forum yang mewakili pekerja perikanan di Benggala Barat. Mereka didampingi oleh mahasiswa dan ahli hukum dari King’s Human Rights and Environment Clinic, King’s College London.
Pengaduan tersebut menuduh Barclays tidak melakukan due diligence lingkungan dan hak asasi manusia secara memadai sebelum memberikan layanan keuangan kepada lembaga yang berhubungan dengan proyek PLTU Rampal.
Menurut pengadu, Barclays pernah menjadi penjamin emisi utang NTPC Ltd, perusahaan milik negara India yang menjadi salah satu mitra dalam proyek tersebut. Bank itu juga disebut pernah menangani penerbitan obligasi Export-Import Bank of India pada periode 2016–2019. Lembaga tersebut memberikan pinjaman bagi pembangunan PLTU Rampal.
Pengajuan pengaduan belum berarti tuduhan tersebut telah terbukti. Pemerintah Inggris masih harus menilai apakah perkara itu memenuhi persyaratan untuk diproses lebih lanjut. Barclays dan Bangladesh India Friendship Power Company Ltd dilaporkan menolak memberikan komentar kepada The Guardian.
Pengaduan Bukan Putusan Pengadilan
Office for Responsible Business Conduct merupakan bagian dari Departemen Bisnis dan Perdagangan Inggris. Lembaga ini menjalankan mekanisme pengaduan berdasarkan pedoman perilaku bisnis bertanggung jawab dari OECD.
Menurut prosedur resmi Pemerintah Inggris, pengaduan akan melalui penilaian awal, mediasi atau pemeriksaan lebih lanjut, kemudian penerbitan pernyataan akhir apabila perkara diterima.
Mekanisme tersebut bukan proses peradilan dan lembaganya tidak memiliki kewenangan untuk memaksa perusahaan menjalankan rekomendasi. Meskipun demikian, pemeriksaan dapat menghasilkan temuan dan rekomendasi yang berpengaruh terhadap kebijakan perusahaan, reputasi bisnis, serta standar pembiayaan proyek berisiko tinggi.
PLTU Rampal Sudah Dipersoalkan Sejak Lama
PLTU Rampal atau Maitree Super Thermal Power Project merupakan pembangkit batu bara berkapasitas sekitar 1.320 megawatt yang dibangun di Distrik Bagerhat, Bangladesh. Lokasinya berada di tepi Sungai Pasur, salah satu jalur perairan penting yang terhubung dengan Sundarbans.
Kekhawatiran terhadap proyek ini tidak baru muncul setelah pengaduan terhadap Barclays. Pada 2016, UNESCO dan IUCN telah menyerukan relokasi proyek PLTU Rampal setelah melakukan misi pemantauan reaktif di Sundarbans.
Tim pemantauan saat itu mengidentifikasi empat kelompok ancaman utama, yaitu pencemaran udara dari abu batu bara, pencemaran air dari limbah dan abu, peningkatan pelayaran serta pengerukan, dan dampak kumulatif pembangunan industri beserta infrastrukturnya.
UNESCO dan IUCN juga menyoroti berkurangnya aliran air tawar ke Sundarbans. Perubahan tersebut dapat meningkatkan sedimentasi dan salinitas, kemudian mengganggu keseimbangan ekologis kawasan.
Temuan itu menunjukkan bahwa pembahasan mengenai dampak PLTU Rampal tidak dapat dipisahkan dari perubahan kondisi hidrologi seluruh delta. Satu proyek industri mungkin memiliki batas administratif, tetapi air, polutan, sedimen, dan organisme tidak berhenti pada batas tersebut.
Pencemaran Logam Berat Menambah Tekanan Sundarbans
Penelitian Ghosh dan rekan-rekannya yang diterbitkan dalam Journal of Hazardous Materials Advances pada 2025 menemukan pencemaran logam berat pada ekosistem mangrove Sundarbans.
Studi berjudul Heavy Metal Pollution in the Sundarbans Mangrove Ecosystem: A Growing Environmental Concern tersebut melaporkan peningkatan sejumlah unsur logam pada sampel air dan sedimen. Konsentrasi merkuri dan arsenik yang tinggi teridentifikasi pada sampel air, terutama di kawasan Sungai Pasur.
Peneliti juga menemukan kontaminasi kadmium, timbal, nikel, tembaga, dan seng pada sedimen. Sumber pencemar diperkirakan berkaitan dengan aktivitas industri, kawasan pelabuhan, pembakaran batu bara, dan peningkatan lalu lintas kapal.
Temuan tersebut tidak dapat serta-merta digunakan untuk menyimpulkan bahwa seluruh pencemaran di Sundarbans berasal dari satu fasilitas. Penelusuran sumber polutan memerlukan data emisi, pola arus, musim, karakter sedimen, dan pemantauan dalam jangka panjang.
Namun, hasil penelitian itu memperkuat kebutuhan terhadap pemantauan kualitas air dan sedimen secara terbuka, konsisten, serta terintegrasi. Logam berat dapat bertahan di lingkungan, terakumulasi dalam sedimen, diserap organisme, dan berpindah melalui rantai makanan.
Jika kontaminasi memasuki ikan, udang, kepiting, atau kerang, ancamannya tidak hanya berhubungan dengan biodiversitas. Persoalan tersebut juga dapat berkembang menjadi risiko bagi keamanan pangan, kesehatan, dan pendapatan masyarakat pesisir.
Salinitas Mengubah Komposisi Vegetasi Mangrove
Pencemaran industri bukan satu-satunya ancaman terhadap Hutan Mangrove Sundarbans. Perubahan salinitas juga dapat mengubah komposisi jenis, pertumbuhan vegetasi, produktivitas ekosistem, serta simpanan karbonnya.
Penelitian Dasgupta, Sobhan, dan Wheeler dalam jurnal Ambio menganalisis kemungkinan perubahan jenis mangrove berdasarkan 27 skenario salinitas hingga 2050. Hasil penelitian tersebut memperkirakan bahwa perubahan salinitas dapat menimbulkan dampak berbeda terhadap setiap jenis mangrove.
Heritiera fomes, salah satu jenis penting di Sundarbans, diproyeksikan mengalami kehilangan habitat yang signifikan. Sementara itu, beberapa jenis yang lebih toleran terhadap salinitas berpotensi memperluas distribusinya.
Perubahan ini menunjukkan bahwa tutupan mangrove yang tampak tetap hijau belum tentu menandakan kondisi ekologisnya tidak berubah. Sebuah kawasan dapat mempertahankan luas vegetasi, tetapi mengalami penurunan keanekaragaman jenis, perubahan struktur tegakan, dan berkurangnya fungsi ekologis.
Penelitian Chowdhury dan rekan-rekannya pada 2023 juga menemukan hubungan antara siklon, salinitas, perubahan komunitas mangrove, dan simpanan karbon organik di Sundarbans bagian India. Tekanan berulang dapat mendorong dominasi jenis tertentu dan membuat komposisi mangrove semakin seragam.
Mengapa Hidrologi Menjadi Penentu?
Mangrove hidup dalam hubungan yang erat dengan air tawar, air laut, pasang surut, sedimen, dan elevasi lahan. Ketika aliran air tawar menurun, konsentrasi garam dapat meningkat. Ketika kanal terhambat atau pola pasang surut berubah, distribusi nutrien dan sedimen juga ikut berubah.
Karena itu, perlindungan mangrove tidak cukup dilakukan dengan penanaman. Pemulihan harus memperhatikan proses pembentukan habitat, konektivitas sungai, pergerakan pasang surut, kualitas air, dan ruang bagi mangrove untuk bergeser mengikuti perubahan garis pantai.
Prinsip tersebut juga relevan bagi Indonesia. Artikel MANGROVEMAGZ mengenai penyebab kegagalan rehabilitasi mangrove menjelaskan bahwa lokasi, hidrologi, salinitas, arus, gelombang, kebijakan lahan, dan keterlibatan masyarakat harus dipertimbangkan sebelum penanaman dilaksanakan.
Ancaman terhadap Benteng Alami Pesisir
Hutan Mangrove Sundarbans bekerja sebagai living infrastructure atau infrastruktur hidup. Batang, akar, tajuk, dan bentang hutannya membantu memperlambat aliran air, meredam gelombang, mengurangi energi badai, serta menangkap sedimen.
Penelitian mengenai nilai perlindungan Sundarbans terhadap Siklon Sidr memperkirakan bahwa jasa perlindungan badai dari kawasan tersebut mencapai sekitar USD543,3 juta berdasarkan nilai 2015. Penelitian itu juga memperkirakan bahwa setiap tambahan satu kilometer lebar hutan mangrove utuh dapat mengurangi kerugian aset rumah tangga saat terjadi siklon dan gelombang badai.
Nilai tersebut bukan harga jual hutan mangrove. Perhitungan itu menggambarkan besarnya kerusakan yang berpotensi dihindari karena keberadaan ekosistem.
Jika kualitas Sundarbans terus menurun, masyarakat dapat kehilangan lebih dari sekadar tutupan pohon. Mereka berisiko kehilangan lapisan perlindungan alami, sumber pangan, mata pencaharian, ruang budaya, habitat perikanan, dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan iklim.
Krisis Iklim dan Karbon Biru
Mangrove menyerap karbon melalui fotosintesis dan menyimpannya dalam biomassa serta sedimen. Kondisi tanah yang tergenang dan rendah oksigen memperlambat penguraian bahan organik, sehingga karbon dapat tersimpan dalam waktu yang panjang.
Mekanisme tersebut dijelaskan lebih lanjut dalam artikel MANGROVEMAGZ mengenai cara mangrove menyimpan banyak karbon di pesisir.
Namun, kemampuan menyimpan karbon bergantung pada kesehatan ekosistem. Pencemaran, perubahan salinitas, gangguan hidrologi, erosi, dan hilangnya vegetasi dapat mengurangi produktivitas mangrove serta mengganggu proses penimbunan karbon organik.
Di sinilah muncul ironi besar Sundarbans. Mangrove dibutuhkan untuk menghadapi dampak krisis iklim, tetapi pada saat bersamaan ekosistem tersebut juga terpapar emisi bahan bakar fosil dan pembangunan yang berpotensi melemahkan ketahanannya.
Mengapa Lembaga Keuangan Ikut Disorot?
Pembangunan pembangkit listrik, pelabuhan, tambang, dan kawasan industri berskala besar bergantung pada pembiayaan. Tanpa kredit, obligasi, penjaminan emisi, investasi, atau layanan keuangan lainnya, banyak proyek tidak dapat dijalankan.
Karena itu, lembaga keuangan semakin dipandang memiliki tanggung jawab untuk menilai risiko lingkungan dan sosial dari proyek yang mereka dukung.
Pedoman OECD untuk Perusahaan Multinasional mendorong perusahaan menjalankan risk-based due diligence. Proses ini digunakan untuk mengenali, mencegah, mengurangi, dan menjelaskan cara perusahaan menangani dampak negatif yang berkaitan dengan operasi, produk, layanan, rantai pasok, maupun hubungan bisnisnya.
Bagi sektor keuangan, pemeriksaan tidak seharusnya berhenti pada kelayakan pembayaran utang. Penilaian perlu mencakup lokasi proyek, nilai biodiversitas, masyarakat terdampak, emisi gas rumah kaca, potensi pencemaran, risiko kumulatif, serta kemampuan perusahaan menggunakan pengaruhnya untuk mencegah kerusakan.
Kasus Barclays dan PLTU Rampal pada akhirnya menguji apakah komitmen pembiayaan berkelanjutan benar-benar diterapkan ketika berhadapan dengan proyek yang memiliki nilai ekonomi besar.
Pelajaran Sundarbans bagi Indonesia
Indonesia dan Sundarbans memiliki karakter ekologis, sosial, dan kebijakan yang berbeda. Meskipun demikian, kasus ini memberikan sejumlah pelajaran penting bagi pengelolaan ekosistem mangrove Indonesia.
1. Dampak Kumulatif Harus Dinilai
Analisis dampak tidak boleh memeriksa setiap proyek secara terpisah. Pelabuhan, kawasan industri, pembangkit listrik, pengerukan, reklamasi, tambak, perubahan aliran sungai, dan permukiman dapat menghasilkan tekanan yang saling memperkuat.
Sebuah proyek mungkin terlihat memiliki dampak terbatas. Namun, ketika ditempatkan dalam lanskap yang telah mengalami tekanan berat, tambahan gangguan kecil dapat mendorong ekosistem melewati ambang pemulihannya.
2. Melindungi Mangrove Eksisting Lebih Utama
Penanaman baru tidak dapat langsung menggantikan fungsi hutan mangrove alami yang telah berkembang selama puluhan atau ratusan tahun. Mangrove eksisting memiliki struktur akar, variasi jenis, hubungan trofik, simpanan karbon, dan jaringan hidrologi yang belum tentu dapat dipulihkan hanya dengan menanam bibit.
Oleh sebab itu, hierarki tindakan harus dimulai dari menghindari kerusakan, meminimalkan dampak yang tidak dapat dihindari, memulihkan fungsi ekologis, kemudian melakukan kompensasi sebagai langkah terakhir.
3. Pemantauan Tidak Boleh Berhenti pada Tutupan Lahan
Citra satelit penting untuk mengetahui perubahan luas vegetasi. Namun, tutupan hijau tidak selalu menggambarkan kualitas ekosistem.
Pemantauan perlu mencakup komposisi jenis, regenerasi alami, kesehatan tegakan, salinitas, kualitas air, logam berat, sedimentasi, hidrologi, biodiversitas, simpanan karbon, dan perubahan mata pencaharian masyarakat.
4. Masyarakat Pesisir Harus Terlibat
Masyarakat merupakan kelompok yang paling cepat mengalami dampak perubahan kualitas perairan dan menurunnya sumber daya pesisir. Pengetahuan mereka mengenai musim, hasil tangkapan, perubahan arus, kondisi sungai, dan kesehatan habitat harus menjadi bagian dari sistem pemantauan.
Pelibatan masyarakat juga diperlukan sejak penilaian dampak, perencanaan, pengawasan, penanganan keluhan, hingga evaluasi proyek.
5. Pendanaan Harus Memiliki Standar Ekologis
Bank dan investor perlu menempatkan kawasan mangrove, lahan basah penting, wilayah adat, dan kawasan bernilai biodiversitas tinggi sebagai bagian dari penyaringan risiko pembiayaan.
Komitmen ESG akan kehilangan makna apabila lembaga keuangan mendukung program penanaman mangrove di satu lokasi, tetapi pada saat bersamaan membiayai proyek yang memperbesar tekanan terhadap mangrove di lokasi lainnya.
Sundarbans Bukan Sekadar Persoalan Bangladesh dan India
Hutan Mangrove Sundarbans memperlihatkan bahwa krisis mangrove merupakan persoalan lintas sektor. Konservasi tidak dapat bekerja sendiri ketika kebijakan energi, pembiayaan, industri, pelabuhan, tata air, dan pembangunan pesisir bergerak ke arah yang berbeda.
Pengaduan terhadap Barclays belum menghasilkan putusan mengenai adanya pelanggaran. Namun, kasus tersebut telah memunculkan pertanyaan penting: sejauh mana lembaga keuangan bertanggung jawab atas risiko lingkungan dari proyek yang mereka bantu biayai?
Bagi dunia, melindungi Sundarbans berarti menjaga biodiversitas, simpanan karbon, ketahanan pesisir, serta kehidupan jutaan masyarakat yang bergantung pada delta tersebut.
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi pengingat bahwa ekosistem mangrove tidak cukup dijaga melalui seremoni penanaman. Mangrove membutuhkan perlindungan kawasan, aliran hidrologi yang sehat, pengendalian pencemaran, pemantauan berbasis data, keterlibatan masyarakat, dan kebijakan pembiayaan yang tidak menghasilkan kerusakan baru.
Ketika hutan mangrove terbesar dunia berada di bawah tekanan, persoalannya tidak lagi hanya tentang satu kawasan. Persoalannya adalah bagaimana dunia menempatkan batas ekologis dalam setiap keputusan pembangunan. (ADM).
Pertanyaan Umum tentang Hutan Mangrove Sundarbans
Di mana Hutan Mangrove Sundarbans berada?
Hutan Mangrove Sundarbans berada di delta Sungai Gangga, Brahmaputra, dan Meghna di pesisir Teluk Benggala. Kawasannya terbentang melintasi Bangladesh dan India.
Mengapa PLTU Rampal dipersoalkan?
PLTU Rampal dipersoalkan karena lokasinya berada di sekitar sistem sungai yang terhubung dengan Sundarbans. Kekhawatiran mencakup pencemaran udara dan air, limbah abu batu bara, peningkatan pelayaran, pengerukan, serta dampak kumulatif pembangunan industri.
Apakah Barclays telah dinyatakan bersalah?
Belum. Barclays menghadapi pengaduan yang akan dinilai oleh Office for Responsible Business Conduct Inggris. Pengajuan tersebut bukan putusan pengadilan dan belum membuktikan adanya pelanggaran.
Apa ancaman utama bagi Sundarbans?
Ancaman utamanya meliputi pencemaran industri, logam berat, peningkatan salinitas, berkurangnya aliran air tawar, aktivitas pelayaran, pembangunan pesisir, eksploitasi sumber daya, siklon, erosi, dan kenaikan muka laut.
Mengapa Sundarbans penting bagi perubahan iklim?
Sundarbans menyimpan karbon dalam vegetasi dan sedimen, melindungi pesisir dari badai serta gelombang, dan mendukung kemampuan masyarakat menghadapi dampak perubahan iklim.
Daftar Pustaka
Akber, M. A., Patwary, M. M., Islam, M. A., dan Rahman, M. R. 2018. Storm Protection Service of the Sundarbans Mangrove Forest, Bangladesh. Natural Hazards, 94, 405–418.
Chowdhury, A., Naz, A., Sharma, S. B., dan Dasgupta, R. 2023. Changes in Salinity, Mangrove Community Ecology, and Organic Blue Carbon Stock in Response to Cyclones at Indian Sundarbans. Life, 13(7), 1539.
Dasgupta, S., Sobhan, I., dan Wheeler, D. 2017. The Impact of Climate Change and Aquatic Salinization on Mangrove Species in the Bangladesh Sundarbans. Ambio, 46, 680–694.
Ghosh, A., Hossain, M. K., Karmaker, K. D., dan Hasan, M. 2025. Heavy Metal Pollution in the Sundarbans Mangrove Ecosystem: A Growing Environmental Concern. Journal of Hazardous Materials Advances, 20, 100887.
OECD. 2023. OECD Guidelines for Multinational Enterprises on Responsible Business Conduct. OECD Publishing, Paris.
Pearce, M. 2026. Barclays Faces Complaint over Backing for Power Plant Near World’s Largest Mangrove Forest. The Guardian.
Sarker, A. H. M. R., Nobi, M. N., Røskaft, E., Chivers, D. J., dan Suza, M. 2020. Value of the Storm-Protection Function of Sundarban Mangroves in Bangladesh. Journal of Sustainable Development, 13(3), 128–137.
UNESCO World Heritage Centre. 2016. World Heritage Centre and IUCN Call for Relocation of Rampal Power Plant, a Serious Threat to the Sundarbans.
UNESCO World Heritage Centre. The Sundarbans. World Heritage List.
(Sumber foto: NurPhoto/Getty/The Guardian)

No comments:
Post a Comment