4.14.2026

Fenomena Munculnya Alga atau Lumut Pada Tambak Silvofishery, Apa Dampaknya?

MANGROVEMAGZ. Silvofishery merupakan metode perikanan budidaya berkelanjutan yang menggabungkan budidaya perikanan dan pelestarian ekosistem mangrove di dalam satu area budidaya. Sistem ini tidak hanya memberikan manfaat secara ekonomi bagi masyarakat pembudidaya, tetapi juga menjaga fungsi ekologis ekosistem mangrove sebagai pelindung pesisir sekaligus ekosistem penyimpan karbon. 

Lebih dari itu, keberadaan mangrove dalam sistem silvofishery juga berperan sebagai penyedia nutrisi alami bagi organisme budidaya. Serasah daun mangrove yang jatuh ke perairan akan mengalami proses dekomposisi dan menghasilkan bahan organik yang menjadi sumber makanan bagi berbagai biota, seperti plankton dan benthos. 

Kehadiran organisme-organisme ini kemudian mendukung ketersediaan pakan alami dalam tambak, sehingga dapat meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan praktik budidaya perikanan. 

Namun, dalam praktiknya, sering muncul fenomena pertumbuhan lumut atau alga di area tambak silvofishery. Lalu, apakah kemunculan lumut atau alga ini berdampak terhadap ekosistem? 

Pada tambak silvofishery, secara alami memang alga atau lumut merupakan bagian dari ekosistem perairan yang dapat muncul ketika terdapat kandungan nutrien di perairan. Dalam jumlah yang wajar, keberadaannya justru memberikan manfaat. 

Lumut berperan sebagai produsen primer yang menghasilkan oksigen melalui proses fotosintesis. Selain itu, lumut juga menjadi sumber makanan bagi berbagai organisme kecil seperti plankton dan benthos, yang kemudian mendukung rantai makanan di dalam tambak untuk makanan fauna budidaya. 

Kondisi menjadi tidak wajar ketika pertumbuhan lumut atau alga terjadi secara berlebihan. Fenomena ini dapat terjadi ketika nutrien pada perairan tambak memiliki kandungan yang sangat tinggi. Kandungan nutrien yang tinggi seperti nitrogen dan fosfor dapat muncul berasal dari sisa pakan atau limbah organik. 

Salah satu dampak buruk dengan adanya lumut atau alga yang berlebihan adalah terganggunya jalan masuk cahaya matahari ke air, yang dapat mengganggu proses fotosintesis pada organisme lain, termasuk bibit mangrove yang masih kecil. 

Selain itu, meningkatnya jumlah lumut atau alga yang berlebihan, terutama saat lumut atau alga tersebut mati dapat mengurangi kadar oksigen dalam perairan yang akan memengaruhi fauna yang ada di tambak yang dapat menyebabkan kematian massal. 

Pada akhirnya, fenomena kemunculan lumut dalam ekosistem silvofishery bukanlah sesuatu yang sepenuhnya negatif. Dalam kondisi normal, lumut justru berkontribusi terhadap keseimbangan ekosistem. 

Namun, ketika pertumbuhannya berlebihan, dampaknya dapat merugikan baik dari sisi ekologis maupun ekonomis. Oleh karena itu, pemahaman dan pengelolaan yang tepat menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan ekosistem silvofishery. (ADM).

No comments:

Post a Comment